Rumah

Sejak 29 tahun lalu anak kecil itu terbiasa mendengar kata "rumah" sebagai tempat tinggal, beruwujud bangunan, sebagai tempat berteduh dikala terik dan hujan. Ia selalu ingat bagaimana guru pelajaran seni rupa meminta untuk menggambar rumah, anak itu selalu menggambar rumah impiannya, rumah berlantai dua, hanya itu, dipikirannya rumah termewah saat itu adalah rumah yang memiliki tangga didalamnya.

Sampai akhirnya, ia melangkah ke dunia nyata. Dunia yang asing, tanpa petunjuk. Tak ada guru yang mengajarkan cara melewatinya. Tak ada buku terstruktur seperti matematika atau sains yang membantunya memahami setiap bab kehidupan.

Anak itu belajar sendirian, mati-matian, kerap kali memecahkan bab nya sendiri, ujian dimulai, lucunya nilai dari ujian tersebut tidak langsung diberitahukan, kadang harus menunggu sampai bertahun-tahun apakah lolos atau tidak, sangat aneh !!!???

Jika fatal dalam menjawab soal ujian, efek buruk yang dirasakannya akan bertahan cukup lama, lebih parah ia akan menanggungnya seumur hidupnya, lagi-lagi ia akan bertanya, mengapa tidak ada yang memberitahunya???!!!!

Jawabannya, tidak ada yang bisa disalahkan, setiap orang sedang berjuang untuk melewati bab per bab nya, sama seperti anak itu, orang lain atau bahkan guru yang mengajarkan menggambar rumah kala itu juga merasakan trial and error, bahkan mungkin nilai yang didapatkan dari ujiannya lebih buruk dari anak itu, bedanya mereka tidak berisik, jadi untuk apa menyalahkan orang lain?.

Kini, anak kecil itu telah dewasa dan dipaksa memahami makna rumah yang baru. Bukan lagi tentang bangunan dua lantai seperti di pelajaran seni rupa 20 tahun lalu, melainkan tentang orang-orang yang pernah menjadi tempatnya pulang.

Jika dikaitkan dengan rumah 20 tahun lalu dengan rumahnya pada saat ini, pondasinya sudah roboh, yang tersisa hanya puing-puing saja, dari sisa-sisa puing tersebut, anak kecil itu berusaha untuk tetap bertahan berteduh didalamnya.
Tidak jarang, ada orang lain yang iba bagaimana anak kecil itu masih bisa berteduh pada sisa-sisa puing rumah tersebut apalagi ketika badai, tapi anak kecil itu tidak mengasihani dirinya, bahkan ia tidak mau jika orang lain membantunya, ia berkata "sebelum melewati bab rumah ini, aku sudah lebih dulu melewati bab-bab yang sama pelajarannya, jadi jangan khawatir, aku akan lolos melewati ujian pada bab ini", kemudian anak itu hanya berharap ia bisa mengerjakan soal-soal pada ujiannya, hingga ia mendapat nilai yang bagus dan suatu saat bisa memiliki rumah baru dengan pondasi baru yang jauh lebih kuat.

Komentar

Postingan Populer