Legacy
Pendahulu tidak pernah berisik dengan keterbatasan, Jika dibandingkan, betapa hari ini banyak sekali kemudahan, Pada umur yang sama, ia telah mengurus anak-anaknya tanpa banyak tuntutan, Sedih melihat bagaimana ia berjuang, tapi bangga bagaimana ia membesarkan dengan hanya berbekal kekuatan. Pendidikan, bahkan untuk tingkat paling dasarpun ia tidak mampu menuntaskan, Bukan kemalasan yang mengalahkan, tapi adik-adiknya dirumahlah yang harus ia prioritaskan. Ia tidak pernah menyalahkan atas mimpi-mimpinya yang dikubur kenyataan, Meski sesekali senyumnya memudar tatkala ia menjawab apa yang dulu dicita-citakan, Berangkat dari kekalahan, Tak heran jika ia selalu berusaha dalam membantu generasi penerusnya untuk memenangkan pendidikan, Meski berkali-kali ia harus menelan kekecewaan karena hidup tidak selalu berjalan sesuai pemikiran, Namun, pantang bagi dirinya untuk menyerah sebelum peperangan, Tenaganya adalah amunisi terbesar yang ia tukar dengan harapan "kemenangan". Satu demi...
