Suara Sang Mimpi

Bagaimana jika pada akhirnya semua mimpi-mimpi itu hanya menggantung pada langit-
belum sempat dipetik, namun Sang Empunya sudah terkubur dan memulai kehidupan baru.
Apakah mimpi-mimpi itu akan mengusahakan agar dipertemukan dengan Sang Pemiliknyaa pada kehidupan yang lain?
sebab ia tahu bagaimana ia diusahakan setiap harinya,
hingga Sang Pemilik mimpi itu sering kali mengorbankan waktunya, demi segera bertemu dengannya,
tak peduli seberapa lelah, ia tetap diusahakan.
Bahkan ketika dini hari saat dunia masih sunyi, Sang Pemilik mimpi terbangun- mengorbankan jam tidurnya hanya untuk meminta kepada Sang Pemilik Langit,
memohon agar segera diizinkan memetik mimpi itu yang masih menggantung ditempat semula.

Mungkin jika Sang Mimpi memiliki kuasa, ia akan bersimpuh memohon belas kasih kepada Sang Pemilik Segala.
Jika ia mampu berteriak, ia sudah lebih dulu melakukannya, sebab ia tak sanggup lagi mendengar pemiliknya merintih dan menyebut-nyebut namanya.
Namun, Sang Mimpi tak memiliki daya, sekeras apapun panggilan Sang Pemilik, ia hanya bisa diam.
Menunggu waktu yang telah ditetapkan.
Pada akhirnya ia tahu, bahwa Sang Pemilik Langit jauh lebih mengerti- kapan waktu terbaik untuk dipetik oleh pemiliknya.
Sang Pemilik Langit tidak pernah salah dalam menetapkan waktunya,
karena ia juga tahu, mimpi tidak boleh hadir saat pemiliknya belum siap menerima, apalagi merawatnya.
"Biarlah aku tetap disini, menunggu giliranku dipetik olehmu.
Jika pada akhirnya kau sudah berpindah pada dimensi yang lain, aku akan menagih pertemuan itu kepada Sang Pemilik Langit,
aku akan mencari kemanapun kau pergi, bersabarlah... untuk pertemuan itu...".

Komentar

Postingan Populer